TUGAS
KIMIA KOORDINASI
NAMA :
MAYANI B ZACHARIAS
NIM :
3112006
SEMESTER :
VI (Tujuh)
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS TRIBUANA KALABAHI
2013
A. Ligan
Ligan merupakan basa Lewis yang
memiliki pasangan elektron bebas (lone pair electron), misalnya ligan NH3, H2O
dan Cl-atau memiliki pasangan elektron p, misalnya ligan C2H2 (asetilena), C2H4
(etilena) dan C6H6 (benzena). Suatu ligan dapat memiliki elektron yang tidak
berpasangan di samping pasangan elektron p misalnya ligan C5H5
(siklopentadienil), C3H5 (alil) dan NO (nitrosil). Di dalam ligan terdapat atom
donor yaitu atom yang memiliki pasangan elektron bebas atau atom yang terikat
melalui ikatan p. Melalui atom-atom donor tersebut
suatu ligan mengadakan ikatan kovalen koordinasi dengan atom atau ion pusat
yang ada.Berdasarkan jumlah atom donor yang dimilikinya, ligan dapat
dikelompokkan sebagai ligan monodentat,
bidentat, tridentat, dan seterusnya. Atom dalam ligan yang menyumbangkan
pasangan elektron disebut atom donor. ikatan logam untuk atom yang melalui satu
atom ligan disebut monodentat Sebuah ligan bidentat pada atom logam melalui dua
atom ligan. Polydentate mengacu pada beberapa titik lampiran oleh satu ligan.
Kalau cincin beranggota enam-lima dihasilkan oleh ikatan ligan polydentate,
kompleks ini disebut sebuah khelat.
B. Tata Nama Senyawa
Kompleks
Tatanama senyawa kompleks terbagai menjadi dua jenis yakni tatanama sistematik dan tatanama
umum:
Tata Nama
Umum
Tatanama umum kini jarang bahkan tidak digunakan lagi. Hal ini disebabkan
tatanama dengan cara ini hanya didasarkan atas nama penemu atau warna yang
dimiliki senyawa koordinasi.
Berikut adalah beberapa contoh
senyawa koordinasi yang penamaannya didasarkan atas nama penemunya:
|
Garam Vauquelin
|
:
|
[Pd(NH3)4]
[PdCl4]
|
|
Garam Magnus
|
:
|
[Pt(NH3)4]
[PtCl4]
|
|
Senyawa Gmelin
|
:
|
[Co(NH3)6]2(C2O4)3
|
|
Garam Zeise
|
:
|
K[PtCl3(C2H4)].H2O
|
Sedangkan nama senyawa koordinasi yang didasarkan atas warna yang dimiliki
adalah:
|
Biru prusia (prusian blue)
|
:
|
KFe[Fe(CN)6].H2O
|
|
Kompleks luteo (kuning)
|
:
|
[Co(NH3)5Cl]Cl2
|
|
Kompleks praseo (hijau)
|
:
|
[Co(NH3)4Cl2]
|
Alasan-alasan nama umum jarang digunakan atau tidak digunakan:
·
Banyak senyawa kompleks yang
berbeda namun disintesis oleh orang yang sama
·
Banyak senyawa kompleks yang
berbeda namun memiliki warna yang sama.
Tata Nama Sistematik
Tata nama sistematik dibagi
menjadi dua cara yakni
1) Tata nama yang didasarkan atas nama dan
jumlah ligan yang ada serta nama atom pusat beserta tingkat oksidasinya.
Bilangan oksidasinya ditulis di dalam tanda kurung menggunakan angka Romawi.
Anggka Romawi yang diberikan disebut Angka
Stock.
2) Tata nama yang didasarkan atas nama dan jumlah
ligan, nama atom pusat serta muatan dari kompleks yang ada. Angka arab yang
digunakan dapat berupa tanda positif atau negatif yang menunjukan muatan ion
kompleks, angka Arab ini disebut angka
Ewens-Bassett.
Tatanama Ligan
Ø Tatanama Ligan netral
Tatanama
ligan netral adalah seperti nama senyawanya kecuali untuk beberapa ligan
seperti yang tertera pada Tabel.
|
Ligan
|
Nama senyawa
|
Nama ligan
|
|
MeCN
|
Asetonitril
|
Asetonitril
|
|
En
|
Etilenadiamina atau
1,2-diaminoetana
|
Etilenadiamina
|
|
Py
|
Piridina
|
Piridina
|
|
AsPh3
|
trifenillarsina
|
trifenillarsina
|
|
Phen
|
1,10-fenantrolina atau
o-fenantrolina
|
1,10-fenantrolina
|
|
Perkecualian
|
||
|
H2O
|
Air
|
Aqua
|
|
NH3
|
Amonia
|
Amina atau azana
|
|
H2S
|
Hidrogen sulfida
|
Sulfan
|
|
H2Te
|
Hidrogen telurida
|
Telan
|
|
CO
|
Karbon monooksida
|
Karbonil
|
|
CS
|
Karbon monosulfida
|
Tiokarbonil
|
|
NO
|
Nitrogen monooksida
|
Nitrosil
|
|
NO2
|
Nitrogen monooksida
|
Nitril
|
|
NS
|
Nitrogen monosulfida
|
Tionitrosil
|
|
SO
|
Nitrogen monoksida
|
Sulfinil atau tionil
|
|
SO2
|
Belerang dioksida
|
Sulfonil atau sulfulir
|
Ø Tatanama Ligan bermuatan negatif
Ligan negatif dapat berupa:
·
Ion sisa
asam. Ion sisa asam namanya dapat berakhiran –da, -it atau –at, misalnya
klorida (Cl‾), nitrit (NO2‾) dan nitrat (NO3‾).
·
Ion bukan
sisa asam. Ion bukan sisa asam namanya biasanya berakhiran –da, misalnya
nitrida (N3‾) dan ozonida.
Jika berlaku
sebagai ligan baik ion sisa asam maupun ion bukan sisa asam yang berakhiran –da,
diganti dengan akhiran –do, kecuali untuk beberapa ligan yang tertera
pada Tabel.
|
Rumus kimia
|
Nama ion
|
Nama ligan
|
|
NH2
|
Amida
|
Amido
|
|
NH2‾
|
Imida
|
Imido
|
|
N3‾
|
Nitrida
|
Nitrido
|
|
N3‾
|
Azida
|
Azido
|
|
S2‾
|
Sulfida
|
Sulfido
|
|
O3‾
|
Ozonida
|
Ozonido
|
|
Perkecualian
|
||
|
F‾
|
Fluorida
|
Fluoro
|
|
Cl‾
|
Klorida
|
Kloro
|
|
Br‾
|
Bromida
|
Bromo
|
|
I‾
|
Iodida
|
Iodo
|
|
O2‾
|
Oksida
|
Okso atau oksido
|
|
O22‾
|
Peroksida
|
Perokso
|
|
Te2‾
|
Telurida
|
Telurokso atau telurido
|
|
S2‾
|
Sulfida
|
Tio, tiokso atau sulfido
|
|
H‾
|
Hidrida
|
Hidro atau hidrido
|
|
SH‾
|
Hidrogen sulfida
|
Merkapto atau sulfanido
|
|
RO‾
|
Alkoksida
|
Alkoksi
|
|
C6H5O‾
|
Fenoksida
|
Fenoksi
|
|
CN‾
|
Sianida
|
Siano
|
Sedangkan
untuk ion sisa asam yang berakhiran -it atau -at jika sebagai
ligan akhirannya ditambah dengan akhiran –o, seperti yang tertera pada
Tabel.
|
Rumus kimia
|
Nama ion
|
Nama ligan
|
|
ONO‾
|
Nitrit
|
Nitrito
|
|
NO2‾
|
Nitrit
|
Nitro
|
|
ONO2‾
|
Nitrat
|
Nitrato
|
|
OSO22‾
|
Sulfit
|
Sulfito
|
|
OSO32‾
|
Sulfat
|
Sulfato
|
|
OCN‾
|
Sianat
|
Sianato
|
|
SCN‾
|
Tiosianat
|
Tiosianato
|
|
CO32‾
|
Kabonat
|
Karbonato
|
Ligan bermuatan positif sangat jarang dijumpai pada senyawa kompleks oleh sebab
itu tidak dibahas pada bagian ini. Salah satu ligan yang bermuatan positif
adalah H2N-CH2-NH3+.
Dalam menulis ligan pada senyawa koordinasi biasanya atom donor selalu ditulis
didepan, kecuali H2O, H2S dan H2Te. Misalnya
untuk ion nitrit (NO2‾), jika N sebagai atom donor maka penulisan
ligannya adalah NO2‾ sedangkan apabila O yang bertindak sebagai atom
donor maka penulisan ligannya adalah ONO‾.
Urutan Penyebutan Ligan
1. Apabila di dalam senyawa kompleks terdapat lebih
dari satu ligan maka urutan penyebutan ligan adalah secara alfabetis tanpa
memperhatikan jumlah dan muatan ligan yang ada. Pada aturan lama ligan yang
disebut terlebih dahulu adalah ligan yang bermuatan negatif secara alfabet
kemudian diikuti dengan ligan netral yang disebut secara alfabet pula.
2. Urutan penyebutan ligan adalah urutan
berdasarkan alfabet pada nama ligan yang telah di Indonesiakan. Misalnya
alfabet awal untuk Cl‾ adalah k
meskipun dalam bahasa inggris nama chloro dengan alfabet awal c. Sebagai contoh nama untuk senyawa
kompleks [Co(en)2Cl2]+ adalah :
·
Ion bis
(etilenadiamina)diklorokobalt(III) (benar)
·
Diklorobis
(etilenadiamina)kobalt(III) (salah)
3. Jumlah ligan yang ada dapat dinayatakan dengan
awalan di, tri. Tetra dan seterusnya. tetapi apabila awalan-awalan tersebut
telah digunakan untuk menyebut jumlah substituen yang ada pada ligan maka
jumlah ligan yang ada dinyatakan dengan awalan bis, tris, tetrakis dan
seterusnya. misalnya di
dalam suatu senyawa kompleks terdapat dua ligan PPh3 maka disebut dengan bis(trifenilfosfina) bukan di(trifenilfosfina).
4. Ligan-ligan yang terdiri dari dua atom atau
lebih ditulis dalam tanda kurung.
Tatanama Senyawa Kompleks Netral
a) Nama senyawa kompleks netral ditulis dalam satu
kata.
b) Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan
c) Menulis atau menyebut nama atom pusat serta
bilangan oksidasi dari atom pusatyang ditulis dengan anggka Romawi. Dan
bilangan oksidasi atom pusat yang harganya nol tidak perlu dituliskan.
Contoh
|
[Co(NH3)3(NO2)3]
|
:
|
triaminatrinotrokobaltt(III)
|
|
[Ni(CO)4]
|
:
|
Tetrakarbonilnikel
|
|
[Fe(CO)5]
|
:
|
Pentakarbonilbesi
|
|
[Fe(CO)2(NO)2]
|
:
|
Dikarbonildinitrosilbesi
|
|
[Co(CO)3(NO)]
|
:
|
Trikarbonilnitrosilkobalt
|
Keterangan: triaminatrinotro kobaltt(III)
merupakan kompleks dengan biloks = 0, selain itu merupakan kompleks dengan
biloks 1.
Senyawa Kompleks Ionik
Ø Senyawa kompleks ionik kation sebagai ion
kopleks
penamaannya adalah sebagai
berikut:
§ Diawali dengan menulis atau menyebut kata ion
§ Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan yang
dimiliki
§ Menulis atau menyebut nama atom pusat diikuti
bilangan oksidasi yang ditulis dalam anggka Romawi.
Selain cara di atas penamaan
dapat dilakukan dengan cara berikut:
§ Diawali dengan menulis atau menyebut kata ion
§ Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan yang
dimiliki
§ Menulis atau menyebut nama serta muatan dari ion
kompleks yang ditulis dengan anggka Arab.
Contoh
|
Kompleks
|
Spesi yang ada
|
Nama
|
|
[Cu(NH3)4]2+
|
Cu2+
dan 4NH3
|
ion tetraaminatembaga(II), atau Ion tetraaminatembaga(2+)
|
|
[Co(NH3)4Cl2]+
|
Co3+,
4NH3, dan 2Cl‾
|
ion tetraaminadiklorokobalt(II) atau ion tetraaminadiklorokobalt(1+)
|
|
[Pt(NH3)4]2+
|
Pt2+,
dan 4NH3
|
ion tetraaminaplatina(II) atau iontetraaminaplatina(2+)
|
|
[Ru(NH3)5(NO2)]+
|
Ru2+,
5NH3, dan NO2‾
|
ion pentaaminanitrorutenium(II) atau ion pentaaminanitrorutenium(1+)
|
Ø Senyawa kompleks ionik
anion sebagai ion kompleks
Penamaannya
adalah sebagai berikut
§ Diawali dengan menulis atau menyebut kata ion
§ Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan yang
dimiliki
§ Menulis atau menyebut nama atom pusat dalam
bahasa latin dengan akhiran –um atau ium diganti –at kemudian diikuti bilangan
oksidasi atom pusat yang ditulis dalam anggka Romawi.
Selain cara di atas penamaan
dapat dilakukan dengan cara berikut
§ Diawali dengan menulis atau menyebut kata ion
§ Menulis atau menyebut nama dan jumlah ligan yang
dimiliki
§ Menulis atau menyebut nama atom pusat dalam
bahasa latin dengan akhiran –um atau ium diganti –at kemudian diikuti muatan
dari ion kompleks yang ditulis dengan angka Arab.
Contoh
|
kompleks
|
Spesi yang ada
|
Nama
|
|
[PtCl4]2‾
|
Pt2+
dan 4Cl‾
|
Ion tetrakloroplatinat(I)
atau ion tetrakloroplatinat(2-)
|
|
[Ni(CN)4]2‾
|
Ni2+
dan 4CN‾
|
Ion tetrasianonikelat(II)
atau ion tetrasianonikelat(2-)
|
|
[Co(CN)6]3‾
|
Co3+
dan 6CN‾
|
Ion heksasianokobaltat(III)
atau ion heksasianokobaltat(3-)
|
|
[CrF6]3‾
|
Cr3+
dan 6F‾
|
Ion heksafluorokromat(III)
atau ion heksasianofluorokromat(3-)
|
|
[MgBr4]2‾
|
Mg2+
dan 4Br‾
|
Ion tetrabromomagnesat(II)
atau Ion tetrabromomagnesat(2-)
|
Ø Senyawa kompleks ionik
kation dan anion sebagai ion kompleks
Penamaannya
adalah menulis atau menyebut nama dan jumlah kation terlebih dahulu kemudian
nama anion diikuti bilangan oksidasi atom pusat yang ditulis dalam anggka
Romawi atau menulis atau menyebut nama dan jumlah kation terlebih dahulu
kemudian nama anion diikuti muatan ion kompleks yang ditulis dengan angka Arab.
Contoh
|
K3[Fe(CN)6]3‾
|
:
|
Kalium heksasianoferat(III) atau kalium heksasianoferat(3-)
|
|
K4[Fe(CN)6]
|
:
|
Kalium heksasianoferat(II) atau kalium heksasianoferat(4-)
|
|
[CoN3(NH3)5]SO4
|
:
|
Pentaaminaazidokobalt(III) sulfat atau Pentaaminaazidokobalt(2+) sulfat
|
|
[Cu(NH3)4]SO4
|
:
|
Pentaaminatembaga(II) sulfat atau Pentaaminatembaga(2+) sulfat
|
|
[Cu(NH3)4] [PtCl4]
|
:
|
Tetraaminatembaga(II) tetrakloroplatinat(II) atau tetraamina tembaga(2+) tetrakloroplatinat(2-)
|
|
[Co(NH3)6] [Cr(CN)6]
|
:
|
Heksaaminakobalt(III) heksasianokromat(III) atau heksasianokobalt(3+)
heksasianokromat(3-)
|
Apakah
senyawa kompleks hanya dapat dibuat dari unsur transisi?
Pada awal perkembangan senyawa-senyawa kompleks atau senyawa koordinasi umumnya
dibuat dari unsur-unsur transisi sebagai atom pusat. Disamping itu, senyawa
yang dibentuk dari logam transisi selalu memiliki bilangan oksidasi atau
tingkat oksidasi positif.
Namun kini senyawa kompleks atau senyawa koordinasi atom pusatnya tidak harus
dari unsur transisi. logam alkali, alkali tanah dan logam utama lainnya dapat
digunakan sebagai atom pusat untuk mensintesis senyawa komplek atau senyawa
koordinasi. Misalnya NaCl yang dikonsumsi sehari-hari dalam kuah masakan
merupakan suatu kompleks. NaCl di dalam air membentuk ion heksaaquanatrium(I),
[Na(H2O)8]+. Ion tetrakloroaluminat(III)
[AlCl]‾, Be(NO3)2.4H2O dan BeSO4.4H2O
yang mengandung ion komplek tetraaquaberilium, [Be(H2O)4]2+,
merupakan beberapa senyawa kompleks yang dibentuk dari unsur-unsur bukan unsur
transisi.
Dari contoh-contoh diatas dapat disimpulkan bahwa senyawa kompleks, tidak hanya
dibuat dengan unsur transisi sebagai atom pusat, tetapi dapat pula dibuat
dengan unsur-unsur lain atau unsur-unsur logam golongan utama.
Apakah
atom pusat suatu kompleks hanya memiliki bilangan oksidasi berharga positif?
Awalnya
senyawa kompleks yang berhasil disintesis selalu memiliki bilangan oksidasi yang
berharga positif. Berikut adalah beberapa contoh senyawa kompleks dengan
bilangan oksidasi ion pusat berharga positif
|
Ion kompleks
|
Atom pusat
|
b.o atom pusat
|
|
[Co(NH3)6]3+
|
Co3+
|
+3
|
|
[Co(CN)6]3‾
|
Co3+
|
+3
|
|
[Cu(NH3)4]2+
|
Cu2+
|
+2
|
|
[Fe(CN)6]3‾
|
Fe3+
|
+3
|
|
[Pd(NH3)4]2+
|
Pd2+
|
+2
|
|
[PtCl4]2‾
|
Pt2+
|
+2
|
Keterangan: b.o = bilangan
oksidasi
Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa atom pusat suatu kompleks tidak
harus memiliki bilangan oksidasi yang harganya positif. Atom pusat suatu
kompleks dapat memiliki bilangan oksidasi nol dan negatif. Berikut adalah contoh kompleks dengan bilangan
oksidasi nol dan harga bilangan oksidasi negatif.
|
kompleks
|
b.o atom pusat
|
Kompleks
|
b.o atom pusat
|
|
[V(CO)6]
|
0
|
[V(CO)6] ‾
|
-1
|
|
[Cr(CO)6]
|
0
|
[Cr(CO)5]2‾
|
-2
|
|
[Fe(CO)5]
|
0
|
[Mn(CO)5] ‾
|
-1
|
|
[Co(Cp)2]
|
0
|
[Fe(CO)4]2‾
|
-2
|
|
[Ni(CO)4]
|
0
|
[Re(CO)4]3‾
|
-3
|
Keterangan: b.o = bilangan
oksidasi
Catatan: CO adalah ligan
karbonil, Cp ligan siklopentadienil dan NO adalah ligan nitrosil. Ketiga ligan
tersebut merupakan ligan netral.
Bilangan Koordinasi
Pada senyawa kompleks banyaknya atom yang terikat pada atom pusat disebut
bilangan koordinasi. Bilangan koordinasi tidak sama dengan bilangan oksidasi
atau tingkat oksidasi. Bilangan koordinasi biasanya 2 x bilangan oksidasi. Oleh
sebab itu untuk unsur-unsur yang memiliki bilangan oksidasi lebih dari satu
akan memeiliki bilangan koordinasi lebih dari satu, hal ini biasanya terjadi
pada unsur-unsur transisi.
Untuk senyawa kompleks dengan ligan monodentat, bilangan koordinasi atom pusat
adalah sama dengan jumlah ligan yang diikatnya. Bilangan koordinasi yang sering
dijumpai pada senyawa kompleks adalah 4 dan 6.
C.
Garam Rangkap dan Garam Kompleks
Suatu
senyawa adisi atau senyawa molekular terbentuk jika sejumlah stoikiometris dua
atau lebih senyawa yang stabil direaksikan dan bergabung membentuk suatu
senyawa yang baru. Pembentukan sejumlah senyawa adisi diberikan dalam beberapa
contoh berikut :
KCl + MgCl2 + 6H2O à KCl.MgCl2.6H2O
carnallite
K2SO4
+ Al2(SO4)3 + 24H2O à K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O
kalium
alum CuSO4
+ 4NH3 + H2Oà CuSO4.4NH3.H2O
tetraammintembaga(II) sulfat monohidrat
(NH4)2SO4
+ FeSO4 + 6H2Oà FeSO4.(NH4)2SO4.6H2O
Garam
Mohr
` Fe(CN)2 + 4KCN à Fe(CN)2.4KCN
kalium ferosianida
Ada
dua jenis senyawa adisi:
1. garam rangkap
2.
garam kompleks
Ø Garam Rangkap
Suatu garam rangkap cukup stabil dalam
fase padatannya. Jika garam rangkap ini dilarutkan dalam air, maka garam ini
akan terurai menadi ion – ion penyusunnya.
Misalnya jika kristal carnallite
dilarutkan dalam air, maka dalam larutan akan terdapat ion – ion penyusun
kristal karnalit, yaitu K+, Mg+, dan Cl-.
Ø Garam Kompleks
Berbeda dengan garam rangkap, jika
garam kompleks dilarutkan ke dalam air, garam tersebut tidak akan terurai
menjadi ion-ion sederhana dari unsur penyusunnya, tetapi terionisasi menjadi
ion-ion kompleks. Misalnya saja jika senyawa CuSO4.4NH3.H2O
dilarutkan dalam air, maka senyawa tersebut tidak akan terurai menjadi ion Cu2+,
tetapi akan menghasilkan spesi terlarut berupa ion kompleks [Cu(H2O)2(NH3)4]2+
yang stabil.
Senyawa-senyawa yang mengandung ion
kompleks semacam ini disebut sebagai senyawa kompleks.
Kimia
koordinasi adalah salah satu cabang dari kimia anorganik yang mempelajari
tentang senyawa-senyawa kompleks. Senyawa kompleks terdiri atas suatu logam
yang berperan sebagai atom pusat, ion logam ini dikelilingi sejumlah ligan yang
berikatan langsung dengannya hingga membentuk suatu geometris tertentu.
Sifat-sifat
kimiawi dari suatu senyawa kompleks ditentukan oleh konfigurasi elektron dari
logam pusat, sifat-sifat ligan, dan interaksi yang terjadi antara logam dengan
ligan.
D.
SEJARAH KIMIA
KOORDINASI
Pada
awal perkembangannya, senyawa kompleks banyak mengundang pertanyaan bagi para
ilmuwan disaat itu akan sifatnya yang stabil. Kestabilan dari senyawa tersebut
tidak dapat dijelaskan dengan menggunakan teori-teori mengenai struktur dan valensi
atom yang dikenal saat itu. Misalnya
saja, bagaimana CoCl3 yang merupakan suatu garam yang stabil dapat
bereaksi dengan sejumlah senyawa seperti NH3 dan menghasilkan
sejumlah senyawa baru : CoCl3.6NH3; CoCl3.5NH3
dan CoCl3.4NH3 ? Struktur semacam apa yang dimiliki oleh
senyawaan tersebut? Bagaimana ikatan yang terbentuk antar atom dalam senyawaan
itu?
Untuk
meneliti sifat dan struktur dari senyawa semacam itu, para ilmuwan membuat
berbagai macam senyawa dengan reaksi kimia yang sederhana untuk mencari suatu
pola tertentu dari senyawa-senyawa tersebut.
1.
Teori Jorgensen
Teori
Rantai yang dikemukakan oleh seorang kimiawan Denmark, S.M. Jǿrgensen sekitar
tahun 1875, merupakan salah satu usaha utama untuk menjelaskan ikatan yang
terbentuk dalam senyawa kompleks.
Jorgensen mengajukan
teorinya berdasarkan reaksi pengendapan AgCl oleh CoCl3.xNH3.
CoCl3.6NH3
(jingga-kuning) + AgCl (excess) à 3 AgCl
CoCl3.5NH3
(pink) + AgCl (excess)
à 2 AgCl
CoCl3.4NH3
+ AgCl (excess)
à 1 AgCl
CoCl3.3NH3
(biru-hijau) + AgCl (excess)
à -
Berdasarkan
perbandingan mol AgCl yang terendapkan, maka Jorgensen mengusulkan struktur
untuk CoCl3.6NH3, CoCl3.5NH3, CoCl3.4NH3
masing-masing
sebagai
berikut :
CoCl3.6NH3
CoCl3.5NH3
CoCl3.4NH3
Menurut
Jorgensen, atom Cl yang terikat langsung pada Co terikat sangat kuat sehingga
tidak dapat diendapkan, sementara atom Cl yang terikat pada NH3
mudah lepas sehingga dapat diendapkan oleh perak nitrat. Hasil eksperimen untuk
reaksi CoCl3.6NH3, CoCl3.5NH3, CoCl3.4NH3
sesuai dengan struktur teoritis yang diajukan. Akan tetapi teori Jorgensen ini
tidak dapat menjelaskan struktur yang sesuai untuk senyawa CoCl3.4NH3.
2.
Teori Alfred Werner
Pada
tahun 1893, ilmuwan berkebangsaan Swiss, Alfred Werner mengajukan suatu teori
mengenai ikatan yang terbentuk dalam suatu kompleks.
Postulat-postulat dari teori Werner
adalah sebagai berikut :
- Dalam senyawa kompleks, ion logam yang menjadi atom pusat dapat memiliki dua macam valensi, yaitu valensi primer dan valensi sekunder.
- Logam pusat memiliki kecenderungan untuk menjenuhkan baik valensi primer maupun valensi sekudernya.
- Valensi primer diisi oleh anion, dan tidak menentukan geometri dari kompleks. Spesi yang mengisi valensi primer dapat diionkan sehingga dapat diendapkan.
- Valensi sekunder dapat diisi baik oleh anion maupun spesi netral. Spesi yang mengisi valensi sekunder terikat dengan kuat dan memiliki kedudukan khusus dalam ruang
- Banyaknya spesi yang mengisi valensi sekunder menentukan bentuk geometri dari kompleks
Dalam pengertian
modern, valensi primer dalam Teori Werner adalah tingkat oksidasi dari logam
pusat. Spesi yang mengisi valensi sekunder adalah ligan, dan jumlah valensi
sekunder dalam istilah modern disebut sebagai bilangan koordinasi.
Berdasarkan
postulat-postulat di atas, Werner dapat meramalkan struktur dari CoCl3.xNH3.
Misalnya
pada senyawa CoCl3.6NH3, Werner menyatakan bahwa struktur
senyawa tersebut adalah sebagai berikut
Untuk
senyawa CoCl3.3NH3, Werner mengajukan struktur sebagai
berikut:
Pada
CoCl3.3NH3, Cl terikat pada valensi primer dan pada
valensi sekunder, sehingga tidak dapat
terionkan dan diendapkan oleh perak nitrat.
Dalam
teori modern, maka valensi primer pada Teori Werner menunjukkan bilangan
oksidasi dari logam pusat, sementara valensi sekunder adalah bilangan
koordinasi yang menunjukkan banyaknya ligan yang dapat diikat oleh logam pusat.
BILANGAN ATOM EFEKTIF (EFFECTIVE ATOMIC
NUMBER)
Pada
tahun 1916, Lewis mengemukakan bahwa suatu ikatan kovalen terbentuk antara dua
atom dalam suatu molekul melalu pemakaian bersama suatu pasangan elektron.
Konsep Lewis ini selanjutnya dikembangkan oleh Sidgwick. Sidgwick mengemukakan
suatu teori untuk pembentukan ikatan koordinasi (kadang-kadang juga disebut
sebagai ikatan polar atau ikatan datif). Menurut Sidgwick, ligan mendonorkan
pasangan elektron kepada ion logam, sehingga membentuk suatu ikatan koordinasi.
Arah pemberian elektron dari ligan kepada ion logam ditunjukkan dengan tanda
panah dari arah ligan menuju logam. Ikatan koordinasi tidak jauh berbeda dengan
ikatan kovalen, karena sama-sama menyangkut pemakaian bersama pasangan
elektron, perbedaannya hanya terletak pada pembentukan ikatan tersebut.
Contohnya
pada kompleks [Co(NH3)6]3+. Setiap ligan NH3
mendonorkan satu pasang elektron untuk membentuk ikatan koordinasi dengan ion
Co3+ sebagai ion pusat.
Kompleks
[Co(NH3)6]3+, enam buah ligan NH3
yang mengelilingi Co3+ masing-masing mendonorkan sepasang elektron
pada Co3+ untuk membentuk ikatan, ditunjukkan dari arah panah yang
menuju Co3+ dari NH3
Dalam
konsepnya mengenai ikatan koordinasi ini, Sidgwick menyatakan bahwa jumlah
elektron yang mengelilingi ion pusat, termasuk yang didonorkan oleh ligan
disebut sebagai bilangan atom efektif (Effective Atomic Number, EAN) dari logam
tersebut. Pada sebagian besar senyawa kompleks, jumlah elektron yang
mengelilingi ion pusat sama dengan nomor atom dari gas mulia setelah logam
tersebut dalam sistem periodik unsur. Fenomena ini disebut sebagai Aturan
Bilangan Atom Efektif.
Untuk
menghitung EAN suatu ion logam dalam kompleks tertentu dapat dilakukan dengan
menggunakan rumus berikut :
EAN = ( Z – x
) + ( n x y )
Dimana
Z adalah nomor atom logam pusat, x adalah tingkat oksidasi dari logam pusat
tersebut, n adalah jumlah ligan, dan y menunjukkan jumlah elektron yang
disumbangkan oleh satu ligan.
Dalam
kenyataannya, ternyata banyak senyawa-senyawa kompleks yang tidak mengikuti
aturan EAN ini. Tetapi berdasarkan EAN tersebut sifat kemagnetan dari suatu
senyawa dapat diramalkan. Kompleks yang mengikuti Aturan EAN (EAN sama dengan
nomor atom gas mulia terdekat dari logam) bersifat diamagnetik. Sebaliknya,
kompleks yang tidak mengikuti aturan EAN bersifat paramagnetik. Hal ini telah
dibuktikan melalui ekperimen.
Misalnya
saja, untuk ion Co3+ (nomor atom Co = 27) dalam kompleks [Co(NH3)6]3+.
Setiap ligan NH3 menyumbangkan dua buah elektron, dan dalam kompleks
tersebut, Co3+ dikelilingi oleh 6 ligan NH3. Maka EAN
dari Co3+ dalam kompleks tersebut dapat dihitung sebagai berikut.
(27
- 3) + (6 x 2) = 36 (sama dengan nomor atom Kripton, gas mulia setelah Co dalam
SPU.
Harga
EAN dari Co3+ dalam kompleks tersebut mengikuti Aturan EAN, sehingga
dapat diramalkan bahwa kompleks tersebut bersifat diamagnetik
Sebaliknya,
sejumlah kompleks yang tidak mengikuti Aturan EAN ternyata bersifat
paramagnetik. Misalkan untuk kompleks [Cu(NH3)4]2+.
Nomor atom Cu adalah 29, ion Cu2+ dalam kompleks tersebut
dikelilingi 4 ligan NH3 yang masing-masing menyumbangkan dua buah
elektron. Dengan demikian harga EAN dari Cu2+ dalam kompleks
tersebut adalah : (29 – 2 ) + ( 4 x 2 ) = 35. Harga ini tidak sesuai dengan
aturan EAN. Dengan demikian kompleks [Cu(NH3)4]2+
dapat diramalkan bersifat paramagnetik. Jumlah elektron tidak berpasangan yang
ada dalam kompleks ini dapat dihitung dari selisih antara nomor atom gas mulia
sesudah atom logam dengan harga EAN dari logam pada kompleks tersebut. Untuk
kasus kompleks [Cu(NH3)4]2+ seperti di atas,
jumlah elektron tidak berpasangan yang ada dalam kompleks adalah
36
(nomor atom Kr) – 35 (EAN dari Cu2+) = 1
Harga
momen magnetik (μ) suatu kompleks dapat dihitung dengan menggunakan rumus
berikut :
μ = { n ( n + 2) }½
Dengan
n adalah jumlah elektron tidak
berpasangan yang ada pada kompleks.
